JURNAL IIMS 2014 Menyingkap Teknologi Pintar dan Aman Terkini

27 Sep 2014

TEMA Smart and safe mobility di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 seakan menyingkap teknologi pintar dan aman termutakhir yang dimiliki pabrikan. Teknologi yang membuat kendaraan menjadi makin cerdas itu tidak hanya menyentuh merek-merek Eropa dan Jepang. Mereka yang datang dari Korea Selatan pun telah memilikinya.

Seperti KIA, yang juga membeberkan teknologinya melalui IIMS 2014. Korea kadang suka dipandang sebelah mata.
Kualitasnya masih dianggap di bawah produsen mobil terkenal lainnya, kata GM Product Planning PT KIA Mobil Indonesia Arifani Perbowo di hari keenam IIMS 2014. Padahal, klaim Arifani, Hyundai Group yang terdiri dari Hyundai dan KIA termasuk dalam lima besar pabrik an terbesar dunia pada 2013 dengan penjualan lebih dari 7,5 juta unit di seluruh dunia. Merek-merek Korea juga serius mengembangkan teknologi agar dapat mengimbangi kemajuan dunia otomotif.

Sebagai efeknya, pabrikan perengkuh rangking ke-35 di pemeringkatan Global Green Brand ini sudah memiliki mesin-mesin hijau tapi tetap responsif seperti Gasoline Direct Injection (GDi) dan Dual CVVT System untuk mesin bensin serta CRDi untuk dieselnya. Mesin GDi didesain untuk memiliki kompresi tinggi agar menghasilkan performa sangat baik, tetapi mampu menurunkan konsumsi BBM dan produksi emisi gas buang.

Kompresi dari mesin yang telah ada di model teranyar Rio, Sportage, Sorento, juga Optima ini memiliki rasio di atas 12:1.
Di sisi lain, mesin Dual-CVVT KIA yang selevel di bawah GDi diklaim lebih responsif di putaran rendah ataupun tinggi. Cara kerja Dual-CVVT sama dengan Dual VVTI yang biasanya ada di kendaraan premium, tapi di KIA sudah ada di Picanto, bahkan Morning, sebut Arifani.
Meski demikian, Arifani mengungkapkan sulit membawa mesin GDi ke Bumi Pertiwi. Kami menunggu masyarakat lebih sadar merawat kendaraan mereka dengan Pertamax karena mesin GDi tidak bisa dengan BBM subsidi mengingat kompresinya yang tinggi. Dengan BBM subsidi mesin akan cepat bermasalah, padahal ini bukan karena kualitas mesinnya, beber Arifani.

Jika kesadaran itu sudah bisa terwujud, tur- tur canggih nan aman KIA lainnya niscaya akan lebih dekat lagi ke Indonesia. Jadi, kedatangan teknologi pintar dan aman turut bergantung pada kesadaran kita untuk beralih dari bensin bersubsidi. (Xan/S-2) Media Indonesia, 24/09/2014, halaman 18


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me